Rabu, 26 April 2017

Tugas 2 Riset operasi Teori antrian

Antrian adalah suatu kejadian yang biasa dalam kehidupan sehari–hari. Menunggu di depan loket untuk mendapatkan tiket kereta api atau tiket bioskop, pada pintu jalan tol, pada bank, pada kasir supermarket, dan situasi–situasi yang lain merupakan kejadian yang sering ditemui. Studi tentang antrian bukan merupakan hal yang baru.

Satu saluran satu tahap (Single Channel – Single Phase)
Single Channel berarti hanya ada satu jalur yang memasuki sistem pelayanan atau ada satu fasilitas pelayanan. Single Phase berarti hanya ada satu pelayanan.

MODEL ANTRIAN SATU SALURAN SATU TAHAP [M/M/1]
 Pada model ini kedatangan dan keberangkatan mengikuti distribusi Poisson dengan tingkat 1 dan µ , terdapat satu pelayan, kapasitas pelayanan dan sumber kedatangan tak terbatas.
Untuk menentukan operating characteristics atau ciri-ciri operasi, dapat dilakukan dengan mudah setelah diperoleh probabilitas n pengantri dalam sistem (Pn). Melalui penurunan matematik yang cukup panjang, dalam kondisi steady state dapat ditunjukkan bahwa Pn = (1 – R) Rn , dimana R = λ / µ ≤1 dan n = 0, 1, 2, ....
Contoh:
Penumpang kereta api datang pada sebuah loket mengikuti distribusi Poisson dengan tingkat rata-rata 20 per jam. Misalkan secara rata-rata setiap penumpang dilayani 2 menit dan waktu layanan mengiluti distribusi eksponensial. Setelah sistem dalam steady state, carilah: a) P4 ; b) L ; c) Lq ; d) W ; e) Wq ; f) P0 atau I ; g) Berapa probabilitas pengantri tidak mendapat tempat duduk jika kursi yang disediakan di depan loket hanya 3?
Jawab
 Tingkat kedatangan rata-rata λ = 20 per jam, dan tingkat pelayanan rata-rata µ = 30 per jam. Sehingga R = 2/3.

Multi Channel – Single Phase
Sistem Multi Channel – Single Phase terjadi kapan saja di mana ada dua atau lebih fasilitas pelayanan dialiri oleh antrian tunggal, sebagai contoh model ini adalah antrian pada teller sebuah bank.

MODEL ANTRIAN BANYAK SALURAN SATU TAHAP [ M/M/c]
Jika traffic intensity (R = 1/ µ ) mendekati satu, rata-rata waktu antri menjadi makin lama dan pengantri dapat menjadi frustasi. Dalam menghadapi kasus ini, dapat diatasi dengan menambah saluran pelayanan.

Contoh 
Karena beberapa alasan angkutan kereta api makin diminati. Misalkan kedatangan calon penumpang mengikuti distribusi Poisson dengan rata-rata 75 per jam. Misalkan lagi, waktu pelayanan mengikuti distribusi eksponensial negatif dengan rata-rata 2 menit. Jika dibuka 3 loket, setelah steady state tercapai carilah operating characteristicsnya.

Jawab 
Jika kepala stasiun ingin mengganti pelayan atau mengubah jumlah loket, maka operating characteristics yang baru perlu ditemukan untuk membantu mengevaluasi perubahan biaya pelayanan dan biaya menunggu. Dengan demikian, tingkat pelayanan yang diharapkan lebih menguntungkan dari segi biaya dapat diketahui.

sumber
https://masdwijanto.files.wordpress.com/2012/06/bab-8.pdf

Selasa, 28 Maret 2017

Tugas 1 Riset operasi Metode simpleks

Metode simpleks ini adalah suatu prosedur matematis untuk mencari solusi optimal dari suatu masalah program linier yang didasarkan pada proses iterasi.

Prosedur Metode Simpleks
1. Formulasi Fungsi Tujuan dan Fungsi Kendala Dari Permasalahan PL
2. Mengkonversi Bentuk Pertidaksamaan Dalam Fungsi Kendala Menjadi Bentuk Standar
3. Membuat Table Simpleks Awal
4. Algoritma metode simpleks 

Program Linier : Bentuk Standar
1. Ruas kanan (RK) fungsi tujuan harus nol (0)
2. Ruas kanan (RK) fungsi kendala harus positif, jika negatif kalikan dengan –1.
3. Fungsi kendala dengan tanda “£ ” harus diubah ke bentuk “=” dengan menambahkan variabel slack/surplus. Variabel slack/surplus disebut variabel basis.
4. Fungsi kendala dengan tanda “³ ” diubah ke bentuk “£ ” dengan cara mengalikan dengan –1, lalu diubah ke bentuk persamaan dengan menambahkan variabel slack, kemudian RKnya dikalikan dengan –1, karena bertanda negatip.

Mengkonversi Bentuk Pertidaksamaan Fungsi Kendala Menjadi Bentuk Standar
1. Ada tiga bentuk fungsi kendala:  £, ≥, dan =.
2. Konversi fungsi kendala bertanda £: menambahkan slack variable pada fungsi kendala tersebut.
3. Untuk kendala berbentuk ‘³’ dan ‘=‘ akan dibahas tersendiri dalam teknik variabel artifisial.
4. Slack variable: sumber daya yang mengganggur pada suatu fungsi kendala.
5. Penambahan slack variable dimaksudkan untuk memperoleh solusi fisibel awal (initial feasible solution, sama dengan titik origin pada grafik) pada fungsi kendala. 

CONTOH
Maksimum       
Z = 18X1 + 36X2
12X1 + 6X2 ≥ 36
4X1 + 4X2 ≤ 32
X1 tak terbatas
X2 ≥ 0

Dimana X1 dan X2 adalah tingkat produksi barang 1 dan barang untuk mengubah masalah ini ke dalam bentuk baku dengan semua variable non negatif, X­1‘ –  X’’ harus menggantikan X1 pada malasah dia atas menjadi :

Maksimumkan
Dengan syarat Z = 18X1’ – 18X’’ + 36X + 0S1 + 0S2 – MA1
                           12X1 – 12X’’ + 6X2 – S1 + A1  = 36
                            4X1’ – 4X’’ +4X2 + S2 = 32
                            X1’  X’’  X2  ≥ 0


Penyelesaian
Solusi terhadap masalah ini ditunjukan pada tabel berikut,
Subsitusikan A1 Fungsi tujuan :
12X1’ – 12X’’ + 6X2 – S1 ­+ A1 = 36
A1 = 36 – 12X1’ + 12X’’ – 6X2 + S1

Maka :

Z = 18X1’ – 18X’’ + 0S1 + 0S2 – [M(36 – 12X1’ + 12X’’ – 6X2 + S1)]
                                                            -36M + (12M)X1’- (12M)X’’+ (6M)X2 – S1M)

Z = (18 + 12M)X1’ – (18 - 12M)X2’’ + (36 + 6M)X2 – (M) S1 – 36M

Persamaan Z dalam tabel :
Z – (18 - 12M)X1’ + (18 + 12M)X’’ – (36 – 6M)X2 + (M) S1 = -36M

Tabel 1.1 (Tabel simpleks awal)
Basis
X1
X’’
X2
S1
S2
S3
Solusi
Rasio
Z
-18 -12M
18 + 12M
- 36 - 6M
M
0
0
-36M

A1
12
-12
6
-1
0
1
36
3
S2
4
-4
4
0
1
0
32
8


Tabel 1.2 (pivot point untuk iterasi pertama)
Basis
X1
X2
X3
S1
S2
S3
Solusi
Z







A1
1
-1
1/2
-1/12
0
1/12
36
S2




























Tabel 1.3 (tabel iterasi pertama)
Basis
X1
X’’
X2
S1
S2
S3
Solusi
Rasio
Z
0
0
-27
-3/2
0
0
 54

A1
1
-1
1/2
-1/12
0
1/12
36
72
S2
0
0
2
1/3
1
0
20
10

Tabel 1.4 (Pivot point untuk iterasi kedua)
Basis
X1
X2
X3
S1
S2
S3
Solusi
Z







X2
4
-4
2
-1/3
0
*
12
S2

























Tabel 1.5 (tabel iterasi kedua)
Basis
X1
X’’
X2
S1
S2
S3
Solusi
Rasio
Z
108
-108
27
-21/2
0
*
 42

X2
4
-4
2
-1/3
0
*
12
*
S2
-8
8
-2
1
1
*
-4
10

Tabel 1.6 (pivot point untuk iterasi ketiga)
Basis
X1
X2
X3
S1
S2
S3
Solusi
Z







X2







X’’
-1
1
-1/4
 1/8
1/8
*
-1/2















Tabel 1.7 (tabel iterasi ketiga yang menghasilkan nilai optimum)
Basis
X1
X’’
X2
S1
S2
S3
Solusi
Rasio
Z
0
0
0
-24
13.5
*
 -12
optimum
X2
0
0
1
-5/6
-1/2
*
10

X2’’
-1
1
1/4
1/8
1/8
*
-1/2


                     Setelah diperoleh tabel optimum, untuk menentukan solusi terhadap variable masalah asli, variable harus diubah kembali kedalam bentuk asli.
X1 = X’-X’’ = 0-(-1/2) = ½ dan X2 = 10, sehingga Z= -12