Sabtu, 27 Mei 2017
Rabu, 26 April 2017
Tugas 2 Riset operasi Teori antrian
Antrian adalah suatu kejadian yang biasa dalam kehidupan
sehari–hari. Menunggu di depan loket untuk mendapatkan tiket kereta api atau
tiket bioskop, pada pintu jalan tol, pada bank, pada kasir supermarket, dan
situasi–situasi yang lain merupakan kejadian yang sering ditemui. Studi tentang
antrian bukan merupakan hal yang baru.
Satu saluran satu tahap (Single Channel – Single Phase)
Single Channel berarti hanya ada satu jalur yang
memasuki sistem pelayanan atau ada satu fasilitas pelayanan. Single Phase berarti
hanya ada satu pelayanan.
MODEL
ANTRIAN SATU SALURAN SATU TAHAP [M/M/1]
Pada model ini kedatangan dan keberangkatan
mengikuti distribusi Poisson dengan tingkat 1 dan µ , terdapat satu pelayan,
kapasitas pelayanan dan sumber kedatangan tak terbatas.
Untuk
menentukan operating characteristics atau ciri-ciri operasi, dapat dilakukan
dengan mudah setelah diperoleh probabilitas n pengantri dalam sistem (Pn).
Melalui penurunan matematik yang cukup panjang, dalam kondisi steady state
dapat ditunjukkan bahwa Pn = (1 – R) Rn , dimana R = λ /
µ ≤1 dan n = 0, 1, 2, ....
Contoh:
Penumpang
kereta api datang pada sebuah loket mengikuti distribusi Poisson dengan tingkat
rata-rata 20 per jam. Misalkan secara rata-rata setiap penumpang dilayani 2
menit dan waktu layanan mengiluti distribusi eksponensial. Setelah sistem dalam
steady state, carilah: a) P4 ; b) L ; c) Lq ; d) W ; e) Wq ; f) P0 atau I ; g)
Berapa probabilitas pengantri tidak mendapat tempat duduk jika kursi yang
disediakan di depan loket hanya 3?
Jawab
Tingkat kedatangan rata-rata λ = 20 per jam,
dan tingkat pelayanan rata-rata µ = 30 per jam. Sehingga R = 2/3.
Multi
Channel – Single Phase
Sistem Multi Channel – Single Phase terjadi kapan saja di mana ada dua atau lebih fasilitas pelayanan dialiri oleh antrian tunggal, sebagai contoh model ini adalah antrian pada teller sebuah bank.
Sistem Multi Channel – Single Phase terjadi kapan saja di mana ada dua atau lebih fasilitas pelayanan dialiri oleh antrian tunggal, sebagai contoh model ini adalah antrian pada teller sebuah bank.
MODEL
ANTRIAN BANYAK SALURAN SATU TAHAP [ M/M/c]
Jika
traffic intensity (R = 1/ µ ) mendekati satu, rata-rata waktu antri menjadi
makin lama dan pengantri dapat menjadi frustasi. Dalam menghadapi kasus ini,
dapat diatasi dengan menambah saluran pelayanan.
Contoh
Karena beberapa alasan angkutan kereta api makin diminati. Misalkan kedatangan
calon penumpang mengikuti distribusi Poisson dengan rata-rata 75 per jam.
Misalkan lagi, waktu pelayanan mengikuti distribusi eksponensial negatif dengan
rata-rata 2 menit. Jika dibuka 3 loket, setelah steady state tercapai carilah
operating characteristicsnya.
Jawab
Jika
kepala stasiun ingin mengganti pelayan atau mengubah jumlah loket, maka
operating characteristics yang baru perlu ditemukan untuk membantu mengevaluasi
perubahan biaya pelayanan dan biaya menunggu. Dengan demikian, tingkat
pelayanan yang diharapkan lebih menguntungkan dari segi biaya dapat diketahui.
sumber
https://masdwijanto.files.wordpress.com/2012/06/bab-8.pdf
Selasa, 28 Maret 2017
Tugas 1 Riset operasi Metode simpleks
Metode simpleks ini
adalah suatu prosedur matematis untuk mencari solusi optimal dari suatu masalah
program linier yang didasarkan pada proses iterasi.
Prosedur Metode
Simpleks
1. Formulasi Fungsi
Tujuan dan Fungsi Kendala Dari Permasalahan PL
2. Mengkonversi
Bentuk Pertidaksamaan Dalam Fungsi Kendala Menjadi Bentuk Standar
3. Membuat Table
Simpleks Awal
4. Algoritma metode
simpleks
Program Linier :
Bentuk Standar
1. Ruas kanan (RK)
fungsi tujuan harus nol (0)
2. Ruas kanan (RK)
fungsi kendala harus positif, jika negatif kalikan dengan –1.
3. Fungsi kendala
dengan tanda “£ ” harus diubah ke bentuk “=” dengan menambahkan variabel
slack/surplus. Variabel slack/surplus disebut variabel basis.
4. Fungsi kendala
dengan tanda “³ ” diubah ke bentuk “£ ” dengan cara mengalikan dengan
–1, lalu diubah ke bentuk persamaan dengan menambahkan variabel slack, kemudian
RKnya dikalikan dengan –1, karena bertanda negatip.
Mengkonversi Bentuk
Pertidaksamaan Fungsi Kendala Menjadi Bentuk Standar
1. Ada tiga bentuk
fungsi kendala: £, ≥, dan =.
2. Konversi fungsi
kendala bertanda £: menambahkan slack variable pada fungsi kendala
tersebut.
3. Untuk kendala
berbentuk ‘³’ dan ‘=‘ akan dibahas tersendiri dalam teknik variabel artifisial.
4. Slack variable:
sumber daya yang mengganggur pada suatu fungsi kendala.
5. Penambahan slack
variable dimaksudkan untuk memperoleh solusi fisibel awal (initial feasible
solution, sama dengan titik origin pada grafik) pada fungsi kendala.
CONTOH
Maksimum
Z = 18X1
+ 36X2
12X1 +
6X2 ≥ 36
4X1 +
4X2 ≤ 32
X1 tak
terbatas
X2 ≥
0
Dimana X1
dan X2 adalah tingkat produksi barang 1 dan barang untuk
mengubah masalah ini ke dalam bentuk baku dengan semua variable non negatif, X1‘
– X’’ harus menggantikan X1
pada malasah dia atas menjadi :
Maksimumkan
Dengan
syarat Z = 18X1’ – 18X’’ + 36X2 + 0S1 + 0S2
– MA1
12X1
– 12X’’ + 6X2 – S1 + A1 = 36
4X1’
– 4X’’ +4X2 + S2 = 32
X1’ X’’ X2 ≥ 0
Penyelesaian
Solusi
terhadap masalah ini ditunjukan pada tabel berikut,
Subsitusikan
A1 Fungsi tujuan :
12X1’
– 12X’’ + 6X2 – S1 + A1 = 36
A1
= 36 – 12X1’ + 12X’’ – 6X2 + S1
Maka
:
Z = 18X1’ – 18X’’ + 0S1
+ 0S2 – [M(36 – 12X1’ + 12X’’ – 6X2 + S1)]
-36M + (12M)X1’- (12M)X’’+ (6M)X2 – S1M)
Z = (18 +
12M)X1’ – (18 - 12M)X2’’ + (36 + 6M)X2 – (M) S1
– 36M
Persamaan Z
dalam tabel :
Z – (18 -
12M)X1’ + (18 + 12M)X’’ – (36 – 6M)X2 + (M) S1
= -36M
Tabel 1.1
(Tabel simpleks awal)
Basis
|
X1
|
X’’
|
X2
|
S1
|
S2
|
S3
|
Solusi
|
Rasio
|
Z
|
-18 -12M
|
18 + 12M
|
- 36 - 6M
|
M
|
0
|
0
|
-36M
|
|
A1
|
12
|
-12
|
6
|
-1
|
0
|
1
|
36
|
3
|
S2
|
4
|
-4
|
4
|
0
|
1
|
0
|
32
|
8
|
Tabel 1.2
(pivot point untuk iterasi pertama)
Basis
|
X1
|
X2
|
X3
|
S1
|
S2
|
S3
|
Solusi
|
Z
|
|||||||
A1
|
1
|
-1
|
1/2
|
-1/12
|
0
|
1/12
|
36
|
S2
|
![]() |
Tabel 1.3
(tabel iterasi pertama)
Basis
|
X1
|
X’’
|
X2
|
S1
|
S2
|
S3
|
Solusi
|
Rasio
|
Z
|
0
|
0
|
-27
|
-3/2
|
0
|
0
|
54
|
|
A1
|
1
|
-1
|
1/2
|
-1/12
|
0
|
1/12
|
36
|
72
|
S2
|
0
|
0
|
2
|
1/3
|
1
|
0
|
20
|
10
|
Tabel 1.4
(Pivot point untuk iterasi kedua)
Basis
|
X1
|
X2
|
X3
|
S1
|
S2
|
S3
|
Solusi
|
Z
|
|||||||
X2
|
4
|
-4
|
2
|
-1/3
|
0
|
*
|
12
|
S2
|
Tabel 1.5 (tabel iterasi kedua)
Basis
|
X1
|
X’’
|
X2
|
S1
|
S2
|
S3
|
Solusi
|
Rasio
|
Z
|
108
|
-108
|
27
|
-21/2
|
0
|
*
|
42
|
|
X2
|
4
|
-4
|
2
|
-1/3
|
0
|
*
|
12
|
*
|
S2
|
-8
|
8
|
-2
|
1
|
1
|
*
|
-4
|
10
|
Tabel 1.6
(pivot point untuk iterasi ketiga)
Basis
|
X1
|
X2
|
X3
|
S1
|
S2
|
S3
|
Solusi
|
Z
|
|||||||
X2
|
|||||||
X’’
|
-1
|
1
|
-1/4
|
1/8
|
1/8
|
*
|
-1/2
|
Tabel 1.7 (tabel iterasi ketiga yang menghasilkan nilai
optimum)
Basis
|
X1
|
X’’
|
X2
|
S1
|
S2
|
S3
|
Solusi
|
Rasio
|
Z
|
0
|
0
|
0
|
-24
|
13.5
|
*
|
-12
|
optimum
|
X2
|
0
|
0
|
1
|
-5/6
|
-1/2
|
*
|
10
|
|
X2’’
|
-1
|
1
|
1/4
|
1/8
|
1/8
|
*
|
-1/2
|
Setelah diperoleh tabel
optimum, untuk menentukan solusi terhadap variable masalah asli, variable harus
diubah kembali kedalam bentuk asli.
X1 = X1’-X’’ = 0-(-1/2) = ½ dan
X2 = 10, sehingga Z= -12
Langganan:
Postingan (Atom)







